Bimtek Guru ke Yogyakarta Kembali Ditelusuri, Biaya Rp5,5 Juta Jadi Sorotan

Banyuasin, Suarana.id — Perkembangan program Professional English Training (PET) Goes to Yogyakarta bagi guru sekolah dasar di Kabupaten Banyuasin kembali ditelusuri. Hasil penelusuran ke sejumlah sekolah serta konfirmasi kepada tenaga pendidik di Kecamatan Air Salek, Jumat (6/11/2026), menghimpun sejumlah informasi terkait pengalaman peserta, besaran biaya pelatihan, hingga pandangan pihak sekolah terhadap pelaksanaan program tersebut.

 

Dari hasil wawancara dengan salah seorang guru peserta dan konfirmasi kepada kepala sekolah yang tidak mengikuti kegiatan, muncul beragam pandangan mengenai manfaat, pembiayaan, serta alternatif pelaksanaan peningkatan kompetensi guru tersebut.

 

Duheriani, S.Pd., salah seorang guru SDN 20 Air Salek yang akrab disapa Ria, saat diwawancarai menjelaskan bahwa kegiatan PET Goes to Yogyakarta berlangsung selama lima hari, termasuk perjalanan pergi dan pulang.

 

“Lima hari selama pulang pergi. Kegiatannya yang pertama mengunjungi destinasi di hari pertama, hari kedua itu kita di hotel untuk melakukan kegiatan, selanjutnya pada hari terakhir kita kunjungan juga,” jelasnya.

 

Ria membenarkan bahwa biaya yang dikeluarkan peserta sebesar Rp5,5 juta. Menurutnya, selama mengikuti kegiatan tersebut tidak ditemukan kendala berarti. Ia justru menilai kegiatan itu memberikan pengalaman positif, terutama dalam membangun kerja sama dan motivasi antarguru.

 

“Iya, benar biayanya itu lima juta lima ratus. Untuk kendala sama sekali tidak ada. Itu lebih positif karena membangun kerja sama dengan guru, lebih efektif, bisa termotivasi untuk ikut ke selanjutnya,” ungkapnya.

 

Ia juga menyebut kebersamaan dan materi yang disampaikan narasumber menjadi hal paling berkesan selama mengikuti kegiatan tersebut.

 

“Poin yang paling berkesan yaitu tentang kebersamaan. Terus yang kedua, materi yang disampaikan pemateri kepada kita bisa digunakan pada saat mengajar, terutama bagi guru SD dalam pembelajaran bahasa Inggris,” tambahnya.

 

Terkait pandangannya terhadap program tersebut, Ria menilai keikutsertaan guru juga bergantung pada narasumber yang dihadirkan.

 

“Kalau pendapat saya, ya tergantung dari sumbernya, karena tidak semua narasumber mau,” imbuhnya.

 

Terpisah, Kepala SDN 1 Air Salek, Erwin Sutrisno, S.Pd., menerangkan bahwa dirinya maupun guru-guru di sekolah yang dipimpinnya tidak mengikuti kegiatan PET Goes to Yogyakarta. Menurutnya, faktor utama yang menjadi pertimbangan adalah besarnya biaya yang harus dikeluarkan.

 

“Tidak ada yang berangkat. Yang jelas pokok utama itu biaya, karena biayanya bukan sedikit untuk ukuran musim sekarang ini. Paling sekadar imbauan kalau ada guru-guru yang mau, tidak mau ya sudah,” terangnya.

 

Erwin mengaku tidak mengetahui secara pasti alasan masing-masing guru tidak mengambil kesempatan mengikuti kegiatan tersebut. Ia menduga hal itu berkaitan dengan pertimbangan kebutuhan dan kondisi internal masing-masing tenaga pendidik.

 

“Dan tidak ada yang mau, alasannya faktor kebutuhan. Nah, itu tidak pula paham aku, ya. Mungkin itu urusan intern masing-masing. Tidak tahu mungkin apa bahasanya saling bantu. Tidak bisa ngasih ini itu karena SD 1 tidak ada yang berangkat. Kalau ada sekolah yang berangkat, mungkin saling bantu, kurang paham juga aku,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, Erwin berpendapat bahwa kegiatan peningkatan kompetensi guru, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan kemampuan profesional, dapat dilaksanakan dengan mempertimbangkan sumber pembiayaan dan kebutuhan masing-masing sekolah.

 

Ia menyebut, anggaran yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi guru bersertifikasi juga perlu memperhatikan kebutuhan pendukung pembelajaran, seperti pengadaan laptop maupun perlengkapan lainnya.

 

“Sebenarnya itu intinya untuk guru yang bersertifikasi. Memang di situ mutlak bukan untuk sepenuhnya dinikmati oleh guru yang bersangkutan untuk kebutuhan pribadi. Kan ada juga untuk pengembangan, semacam perlengkapan. Yang tidak punya laptop, ya nabung beli laptop. Ada juga untuk pelatihan, nah pelatihan juga tidak harus ke mana-mana, ke tempat yang jauh-jauh dengan biaya yang besar-besar,” paparnya.

 

Sebagai alternatif, Erwin mengusulkan agar kegiatan pelatihan dapat dilaksanakan secara kolektif dengan menghadirkan narasumber dari luar daerah ke Kecamatan Air Salek. Menurutnya, cara tersebut berpotensi menekan biaya tanpa menghilangkan tujuan utama peningkatan kompetensi guru.

 

“Bisa juga mungkin mendatangkan secara kolektif, ya iuran. Jadi narasumbernya tidak usah jauh-jauh, apa dari Palembang saja datang ke Salek. Kalau aku pribadi, kalau habis sejuta dua juta di Palembang saja, di hotel, yang penting niatnya untuk bimtek, bukan yang lain-lain,” pungkasnya.

 

Pendapat ini didukung oleh beberapa orang guru dan salah seorang Plt kepala sekolah yang tidak ingin identitasnya disebut dalam pemberitaan.

 

Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa program peningkatan kompetensi guru tidak hanya perlu dilihat dari manfaat materi yang diperoleh peserta, tetapi juga dari aspek pembiayaan, efektivitas pelaksanaan, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan tenaga pendidik dan sekolah.

 

Dadit Junaidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup