Sultan Keraton Kacirebonan dan Patih keraton Kanoman Kunjungi Karawang, Rama Anom Sambut dengan Kalungan Bunga

Sultan Kacirebonan, Patih Keraton Kanoman, dan Rama Anom Manggala saat bersilaturahmi di saung Karawang.

KARAWANG, Suarana.id – Kunjungan Sultan Keraton Kacirebonan IX & Pangeran Patih Moch Amaludin Keraton Kanoman beserta keluarga besar Kesultanan Cirebon ke Masjid Agung Karawang menjadi momentum mempererat hubungan silaturahmi sekaligus memperkuat ikatan sejarah dan kebudayaan antara Karawang dan Cirebon.

Sultan Keraton Kacirebonan Pangeran Abdulgani Natadiningrat, SE, bersama Pangeran Patih Mochammad Amaludin dari Keraton Kanoman Cirebon beserta rombongan keluarga besar Kesultanan Cirebon, berkunjung ke Masjid Agung Karawang pada 1 Nopember 2026.

Kedatangan rombongan disambut Rama Anom Manggala dari Kadaton Puradalem Puseur Dayeuh Karawang, bersama perwakilan nazir dan pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Karawang.

Dalam prosesi penyambutan, Rama Anom Manggala bersama perwakilan DKM Masjid Agung mengalungkan bunga kepada Sultan Keraton Kacirebonan dan Pangeran Patih Keraton Kanoman sebagai bentuk penghormatan atas kunjungan tersebut.

Sultan Keraton Kacirebonan Pangeran Abdulgani Natadiningrat dan Pangeran Patih Mochammad Amaludin Keraton Kanoman saat berkunjung ke Karawang, disambut Rama Anom Manggala dengan kalungan bunga di Masjid Agung Karawang.

Selama berada di kompleks Masjid Agung Karawang, Sultan dan rombongan berkesempatan melihat secara langsung sejumlah bagian bangunan masjid yang memiliki nilai sejarah bagi masyarakat Karawang bahkan Jawa Barat.

Salah satu hal yang menjadi perhatian dalam kunjungan tersebut adalah jejak dakwah Syekh Hasanuddin atau yang lebih dikenal dengan nama Syekh Quro, tokoh ulama yang dikenal dalam tradisi sejarah lokal sebagai salah satu penyebar Islam di wilayah Karawang.

Sejarah Syekh Quro juga memiliki keterkaitan dengan kisah Raden Pamanah Rasa yang kemudian dikenal sebagai Prabu Siliwangi dan Nyi Mas Subang Larang. Kisah tersebut menjadi bagian dari narasi perjalanan sejarah Islam di wilayah Jawa Barat, khususnya hubungan Karawang dengan Cirebon dan Kerajaan Sunda.

Kunjungan ini diharapkan dapat memperkuat perhatian terhadap peninggalan sejarah dan nilai-nilai keislaman yang telah berkembang di Karawang sejak masa para ulama terdahulu.

Setelah mengunjungi Masjid Agung Karawang, Sultan Kacirebonan, Pangeran Patih, dan rombongan keluarga besar Kesultanan Cirebon melanjutkan kunjungan ke Kadaton Puradalem Puseur Dayeuh Karawang.

Kehadiran rombongan tersebut menjadi kehormatan tersendiri bagi keluarga besar kadaton. Pertemuan itu sekaligus mempererat hubungan silaturahmi antara keluarga besar Kesultanan Cirebon dengan Kadaton Puradalem Puseur Dayeuh Karawang.

Dalam pesannya, Sultan mengingatkan agar nilai-nilai religius yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Karawang terus dipelihara dan ditingkatkan.

Patih Keraton Kanoman pun menambahkan, tonggak kebudayaan dan kesejarahan yang telah diwariskan para pendahulu juga perlu dijaga agar tetap menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang, dengan berpegang pada nilai-nilai luhur keislaman yang diajarkan para ulama, termasuk Sunan Gunung Jati.

Sementara itu, Rama Anom Manggala dalam keterangannya kepada Suarana.id, Senin (2/11/2026), menyampaikan harapan agar hubungan silaturahmi dengan Keraton Kacirebonan dan keluarga besar Kesultanan Cirebon dapat terus terjalin dan semakin erat.

Ia menilai, hubungan sejarah antara Karawang dan Cirebon memiliki nilai penting yang perlu terus digali dan didokumentasikan melalui kerja sama lintas keluarga besar keraton dan kadaton.

“Kami berharap silaturahmi dan kerja sama dengan Keraton Kacirebonan dan Keraton Kanoman, khususnya keluarga besar Kesultanan Cirebon, dapat terus diperkuat. Kami juga berharap ada kerja sama dalam upaya penulisan dan pendokumentasian sejarah Karawang,” ujar Rama Anom Manggala yang baru saja dilantik tgl 31 Oktober di Mabes Pusat Macan Ali sebagai Wakil Panglima Tinggi Pelaksana Tugas Harian Panglima Tinggi Laskar Agung Macan Ali Nuswantara Kasultanan Cirebon.

Menurutnya, penulisan sejarah menjadi salah satu upaya penting untuk memperkuat pondasi kehidupan beragama dan kebudayaan masyarakat Karawang.

“Sejarah dan budaya yang kita miliki merupakan warisan berharga. Karena itu, perlu dijaga, ditelusuri, dan dituliskan agar nilai-nilai luhurnya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” katanya.

Rama Anom Manggala berharap, kunjungan tersebut tidak hanya menjadi momentum silaturahmi, tetapi juga menjadi awal penguatan kerja sama dalam pelestarian sejarah, budaya, dan nilai-nilai keislaman di Karawang.

Dengan demikian, warisan perjalanan sejarah Karawang dan keterkaitannya dengan Cirebon dapat semakin dikenal serta menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat di masa mendatang.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup